Pengamatan Migrasi Elang (Minggu pertama Oktober 2009) di Bukit Paralayang, Puncak

9 October 2009 oleh redaksi


Sabtu yang mendung

Menggukabut2.jpgnakan sepeda motor para pengamat burung yang tergabung di Sahabat Burung Indonesia info dan Raptor Indonesia berangkat menuju Bukit Paralayang atau yang dikenal orang dengan bukit Gantole, Puncak Bogor. Ada apa disana? Apa mereka mau mengamati orang terbang menggunakan Parasut?. Jelas tidak. Mereka, termasuk saya sendiri yang ikut juga dalam rombongan itu pergi ke puncak bermaksud untuk mengamati Raptor yang melakukan migrasi musim dingin. Ratusan bahkan ribuan burung pemangsa yang terdiri dari Elang Alap Cina,Accipiter soloensis, Elang Alap Jepang,Accipiter gularis dan Sikep Madu Asia,Pernis ptilorhynchus orientalis melakukan migrasi ke Indonesia saat di musim asal mereka ketika di tempat asalnya sedang terjadi musim dingin sehingga untuk bertahan hidup mereka sulit. Untuk itu setiap musim dingin berlangsung mereka melakukan migrasi dan kembali lagi ketika musim semi berlangsung.

Puncak, merupakan tempat yang paling banyak ditemukan jumlah yang melintas jika dibanding dengan daerah lain di Bogor. Di tempat itu setiap tahunnya dilakukan pengamatan bersama untuk mengetahui jumlah dan jenis yang bermigrasi. Dan saya dan beberapa teman dari Sahabat Burung Indonesia Info dan Raptor Indonesia meluncur kesana untuk melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan para pengamat burung lainya setiap tahun di tempat tersebut. Akhirnya kami bergabung di bukit paralayang dan segera mengeluarkan peralatan pengamatan seperti binokular dan monokular serta buku panduan pengamatan. Menurut keterangan Edie dari Taman Nasional yang juga anggota Mata Elang, dari waktu dia datang ke tempat tersebut belum sempat terlihat raptor migran yang melintas.

Kami yang baru datang langsung mengarahkan binokular kami ke arah bukit-bukit yang ada di sekeliling bukit paralayang dan kumpulan-kumpulan awan yang diindikasikan tempat keluarnya para pengembara dari utara itu. Setelah beberapa kali melakukan hal itu ternyata si raptor yang diharapkan bisa dilihat ternyata masih belum keluar.

Saya menyempatkan untuk berbincang dengan para pedagang makanan yang ada di tempat tersebut untuk mendapatkan informasi mengenai raptor yang bermigrasi. Para pedagang makanan seperti batagor, gorengan dan minuman sakoteng adalah orang yang hampir sebagian besar waktunya dihabiskan di tempat itu adalah orang-orang yang pasti tahu begitu raptor-raptor yang bermigrasi itu melintas di gantole. Salah seorang pedagang sakoteng yang tahun lalu menemani saya pengamatan menuturkan kalau burung migran itu masih sepi. Hanya beberapa ekor saja sekitar dua hari yang lalu terlihat melintas. Si akang penjual sakoteng itu menyebutkan kalau yang melintas itu dari jenis Elang Alap. Dari hasil perbincangan saya dengan penjual sakoteng itu dapat disimpulkan kalau awal oktober ini memang masih sepi jumlah yang bermigrasi.

Salah satu teman yang mengarahkan binokular-nya ke arah bukit sebelah utara melihat ada penampakan elang yang sedang melakukan soaring. Dengan menggunakan monokular bisa dapat hasil penglihatan yang maksima, setelah jelas dan berhasil teridentifikasi ternyata Elang Hitam,Ictinaetus malayensis. Dan tidak lama berselang dari waktu perjumpaan dengan elang hitam, di bukit sebelah selatan kembali terlihat satu ekor elang yang sedang melakukan soaring juga. Setelah diidentifikasi ternyata masih bukan jenis yang bermigrasi karena itu adalah Elang Jawa,Spizaetus bartelsi.

Hingga sekitar Pukul 13.00 kami memtuskan untuk istirahat sejenak apalagi cuaca sudah mulai agak gerimis. Tidak lama setelah kami berada di warung yang menyediakan banyak makanan cuaca berkabut dan hujan. Menariknya setelah turun hujan burung-burung seperti Kacamata biasa,Zosterops palpebrosus, Cucak Kutilang,Pycnonotus aurigaster dan Cabai Gunung, Dicaeum sanguinolentum, tiba-tiba muncul di hadapan kami. Jumlah yang paling banyak adalah burung Kacamata biasa asik bermain di pucuk-pucuk pohon Kaliandra. Teman saya Alek tidak mau melewatkan momen ini untuk segera memotret burung-burung kecil itu. Panca dan Mono juga tak mau ketinggalan. Bermodalkan kamera digital pocket dan monokuler mereka mencoba untuk memotret dengan metoda digiscoping. Begitu selesai mengambil gambar merekapun langsung menunjukan hasil masing-masing dan saling membanggakan hasil yang mereka peroleh. Dan hasil yang bias dibilang lumayan bagus adalah mereka yang menggunakan digiscoping. Hingga jam 4 sore, kami belum mendapatkan tanda-tanda kehadiran elang migran, namun beberapa Hirundo rustica yang sempat terlihat terbang berkelompok dalam jumlah 15-25 ekor dalam kelompoknya sempat menjadi penutup perjumpaan kami di sabtu ini.

Minggu yang mendung

Di hari Minggu, giliran saya (Noni), Londo dan Mono untuk mengamati elang migran di Paralayang. Kami bertemu dengan Usep Suparman dari RCS (Raptor Conservation Society) dan Pak David dari Paralayang. Mendung di Minggu hari sudah terlihat dari pagi, kabut menutupi pandangan kami, sehingga kami sulit untuk mengamati datangnya elang. Jenis elang lokal pun tidak terlihat oleh kami, namun jenis burung kecil seperti Kacamata gunung, Cabe gunung dan Cikrak menjadi perhatian kami saat elang migran tidak lewat. Hingga kami pulang pun, elang migran tidak terlihat.

Di pengenalan.jpgGantole pun, kami membagikan informasi mengenai fenomena ini kepada masyarakat awam. Teman dari UI yang berfakultas di Fisip dan Ekonomi tidak sengaja datang dan akhirnya bisa mengetahui fenomena ini. Hal ini akan selalu dilakukan untuk lebih menyebarluaskan mengenai migrasi elang yang hanya terjadi sekali setahun.

Pengamatan tiap hari

Meskipun di sabtu dan minggu kami tidak melihat jenis elang migran, namun dari hasil mailing list di sbi-info@yahoogroups.com dari tanggal 5-9 Oktober, sudah banyak data yang berhasil masuk, antara lain :

Tanggal 6 Oktober 2009: Elang alap cina 16 individu oleh Pak David Paralayang,Elang alap Cina 2 individu, 1 Elap alap Jepang dan 2 Sikep Madu Asia di Cibinong oleh Dayat LIPI, Di Penggoran Semarang tidak ada jumlah individu oleh Baskoro

Tanggal 7 Oktober 2009 :Elang alap Cina 7 individu di Taman Ganesha, Bandung oleh Ady Kristanto dan Nadio BICONS

Tanggal 9 Oktober 2009 : Elang alap cina 55 individu, Elang alap jepang 1 individu dan Sikep madu Asia 3 individu

Terimakasih untuk teman-teman yang sudah mau memberikan waktu untuk ke Gantole ataupun untuk pengamatan Elang migrasi dan membagikan informasinya ya.. Selamat Pengamatan…

Asman dan Noni

29 July 2009 oleh redaksi
gunung-gede.jpg



“Ini adalah pengalaman pertamaku..lelah..namun sebanding dengan apa yang aku lihat hari itu”

Perjalanan menuju Cibodas dengan tujuan Taman Nasional Gunung Gede Pangrango mulai terasa dingin begitu memasuki kawasan Puncak. Udara dingin khas puncak pada jam 7 malam mulai terasa begitu menusuk pada bekas luka yang ada di tangan saya. Berawal dari Bogor bersama Mas Iwan Londo dan Mas Agus dengan maksud untuk pengamatan burung, kami berangkat dengan motor. Kira-kira 1,5 jam perjalanan, sampailah kami di kawasan Gunung Gede Pangrango. Kopi panas pun menjadi tumpuan kami disaat kami bertiga kedinginan

Pagi Nan Cerah dan Kicauan Burung

Tepat jam 6 pagi di saat matahari telah memancarkan sinarnya, kami berkemas untuk memulai pengamatan kami. Bersama dengan Ferdinan, pendamping untuk pengamatan, kami memulai di lapangan golf yang ada di belakang Kantor Balai Besar Taman Nasional Gede Pangrango.  Di lapangan golf dengan ketinggian sekitar 1355mdpl ini kami menemukan beberapa burung seperti Bondol Jawa,Lonchura leucogastroides, yang sedang bermain bersama saudaranya si Bondol Peking,Lonchura punctulata. Bahkan Kacamata Biasa,Zosterops palpebrosus, seperti menyambut kami di pagi yang cerah. Tidak jauh dari saya dan mas Reno mengamati si bondol yang sedang berjemur, terlihat Cekakak Jawa,Halcyon cyanoventris, terbang dari pinggir air dan digantikan oleh Tekukur Biasa,Streptophelia chinensis, yang akhirnya terbang juga dan bertengger di atas Perenjak Jawa,Prinia familiaris, sedang bercumbu dengan pasanganya

Pengamatan kami lanjutkan menuju Air Terjun, burung Cabai Gunung,Dicaeum sanguinolentum menutup pengamatan kami di Lapangan Golf. Sampai di pintu masuk kami harus membayar uang administrasi satu orang Rp.3000,- sebagai pengganti tiket masuk yang harus dibayar. Perjalanan belum juga ada 200meter Empuloh Janggut,Alophoixus bres balicus, dan Merbah mata merah,Pycnonotus brunncus, serta Cucak gunung,Pycnonotus bimaculatus, rame berkumpul dalam satu pohon sambil mencari makan. Sambil jalan, sambil pengamatan dan mata jelalatan melihat ke atas, kanan dan kiri mencari arah sumber suara burung yang masih belum terlihat ujudnya. Makin ke dalam kami berjalan suara burung semakin rame. Suara Tepus leher putih, Stachyris thoracica, yang sedang sibuk memberi makan anaknya menjadi perhatian serius Cak Londo (begitu kadang saya memanggilnya). Dia mengendap supaya bisa lebh dekat dengan lokasi induk Tepus itu tanpa mengganggunya. Akhirnya usahanya berhasil 2 sampai 3 gambar berhasil bersarang di memory kameranya

Lokasi Telaga Biru yang berada di ketinggian 1.575m dpl masih lumayan jauh dan sepanjang perjalanan jenis-jenis burung lumayan banyak dan banyak juga yang tidak sempat terindentifikasi karena langsung menghilang di semak belukar. Kancilan Emas, Pachycephala pectoralis javana, berhasil saya identifikasi walaupun harus menunggu lama dia keluar dari balik daun-daun. Menyusuri jalan bebatuan yang tertata rapi dan agak menanjak tidak terasa karena perjalanan kami disuguhi berbagai jenis burung dan tidak terasa kami sampai di Telaga Biru

Pengamatan yang menarik saat kami beristirahat, dimulai saat pejantan dari Sikatan belang, Ficedula westermanni itu bertengger pada ranting pohon dengan jarak yang cukup dekat dengan kami. Cak Londo pun tidak mau melewatkan pemandangan itu, tanpa berlama-lama, Ia dan kameranya pun mulai beraksi mengabadikan Sikatan belang yang sedang membawa anaknya berlatih terbang dan terkadang memberikan makan kepada anaknya

Karena kami tidak bisa berlama-lama, kami pun akhirnya pulang, namun dalam perjalanan pulang pun, tidak henti-hentinya kami disuguhkan beranekaragamnya jenis burung, seperti Sepah gunung, Pericrocotus miniatus, Munguk loreng, Sitta azurea, dan Sikatan bubik, Muscicapa dauurica, berhasil saya identifikasi. Ketika sudah berada di area Information Center, Cerecet Jawa, Psaltria exilis, yang kata buku panduan dari MacKinon merupakan jenis yang endemik juga berhasil teridentifikasi. Cuma sayang sekali tidak sempat terdokumentasi dalam bentuk foto karena geraknya sangat lincah dan cepat sekali

Perjalanan menuju Cibodas dari bogor yang udaranya begitu dingin dan jalan berbatu yang cukup bisa membuat kaki pegal-pegal terbayarkan dengan begitu banyak jenis burung yang di dapat dalam pengamatan setengah hari. Lelah itu terbayarkan dengan keragaman burung yang kami jumpai. Jenis burung yang berhasil kami amati selama di Gunung Gede Pangrango :


Nama Lokal

Nama Latin

Kacamata Biasa

Zosterops palpebrosus

Perenjak Jawa

Prinia familiaris

Bondol Peking

Lonchura punctulata

Bondol Jawa

Lonchura leuogastroides

Kacamata Gunung

Zosterops montanus

Tekukur Biasa

Streptophelia chinensis

Cabe Gunung

Dicaeum sanguinolentum

Empuloh Janggut

Alophoixus bres balicus

Merbah mata merah

Pycnonotus brunncus

Cucak gunung

Pycnonotus bimaculatus

Kancilan emas

Pachycephala pectoralis javana

Tepus leher putih

Stachyris thoracica

Tepus gelagah

Timalia pileata

Cinenen pisang

Orthotomus sutorius

Cikrak daun

Phylloscopus trivirgatus

Cikrak bambu

Abroscopus supercilliaris

Sikatan belang

Ficedula westermanni

Sikatan dada merah

Ficedula dumetoria

Cekakak jawa

Halcyon cyanoventris

Cikrak muda

Seicercus castaniceps

Sikatan biru muda

Cyornis unicolor

Cekakak sungai

Todirhamphus chloris

Sepah gunung

Pericrocotus miniatus

Ciu kunyit

Pteruthius flaviscapis

Munguk loreng

Sitta azurea

Sikatan bubik

Muscicapa dauurica

Cerecet jawa

Psaltria exilis

Gelatik batu kelabu

Parus major

Jingjing petulak

Tephrodornis gularis

Burung gereja erasia

Passer montanus

Layang-layang rumah

Delichon dasypus

Berkecet biru - tua

Cinclidium diana

Gambar : www. potlot-adventure.com

Penulis : Asman

29 July 2009 oleh redaksi



“Ini adalah pengalaman pertamaku..lelah..namun sebanding dengan apa yang aku lihat hari itu”

Perjalanan menuju Cibodas dengan tujuan Taman Nasional Gunung Gede Pangrango mulai terasa dingin begitu memasuki kawasan Puncak. Udara dingin khas puncak pada jam 7 malam mulai terasa begitu menusuk pada bekas luka yang ada di tangan saya. Berawal dari Bogor bersama Mas Iwan Londo dan Mas Agus dengan maksud untuk pengamatan burung, kami berangkat dengan motor. Kira-kira 1,5 jam perjalanan, sampailah kami di kawasan Gunung Gede Pangrango. Kopi panas pun menjadi tumpuan kami disaat kami bertiga kedinginan

Pagi Nan Cerah dan Kicauan Burung

Tepat jam 6 pagi di saat matahari telah memancarkan sinarnya, kami berkemas untuk memulai pengamatan kami. Bersama dengan Ferdinan, pendamping untuk pengamatan, kami memulai di lapangan golf yang ada di belakang Kantor Balai Besar Taman Nasional Gede Pangrango.  Di lapangan golf dengan ketinggian sekitar 1355mdpl ini kami menemukan beberapa burung seperti Bondol Jawa,Lonchura leucogastroides, yang sedang bermain bersama saudaranya si Bondol Peking,Lonchura punctulata. Bahkan Kacamata Biasa,Zosterops palpebrosus, seperti menyambut kami di pagi yang cerah. Tidak jauh dari saya dan mas Reno mengamati si bondol yang sedang berjemur, terlihat Cekakak Jawa,Halcyon cyanoventris, terbang dari pinggir air dan digantikan oleh Tekukur Biasa,Streptophelia chinensis, yang akhirnya terbang juga dan bertengger di atas Perenjak Jawa,Prinia familiaris, sedang bercumbu dengan pasanganya

Pengamatan kami lanjutkan menuju Air Terjun, burung Cabai Gunung,Dicaeum sanguinolentum menutup pengamatan kami di Lapangan Golf. Sampai di pintu masuk kami harus membayar uang administrasi satu orang Rp.3000,- sebagai pengganti tiket masuk yang harus dibayar. Perjalanan belum juga ada 200meter Empuloh Janggut,Alophoixus bres balicus, dan Merbah mata merah,Pycnonotus brunncus, serta Cucak gunung,Pycnonotus bimaculatus, rame berkumpul dalam satu pohon sambil mencari makan.

Sambil jalan, sambil pengamatan dan mata jelalatan melihat ke atas, kanan dan kiri mencari arah sumber suara burung yang masih belum terlihat ujudnya. Makin ke dalam kami berjalan suara burung semakin rame. Suara Tepus leher putih, Stachyris thoracica, yang sedang sibuk memberi makan anaknya menjadi perhatian serius Cak Londo (begitu kadang saya memanggilnya). Dia mengendap supaya bisa lebh dekat dengan lokasi induk Tepus itu tanpa mengganggunya. Akhirnya usahanya berhasil 2 sampai 3 gambar berhasil bersarang di memory kameranya

Lokasi Telaga Biru yang berada di ketinggian 1.575m dpl masih lumayan jauh dan sepanjang perjalanan jenis-jenis burung lumayan banyak dan banyak juga yang tidak sempat terindentifikasi karena langsung menghilang di semak belukar. Kancilan Emas, Pachycephala pectoralis javana, berhasil saya identifikasi walaupun harus menunggu lama dia keluar dari balik daun-daun. Menyusuri jalan bebatuan yang tertata rapi dan agak menanjak tidak terasa karena perjalanan kami disuguhi berbagai jenis burung dan tidak terasa kami sampai di Telaga Biru

Pengamatan yang menarik saat kami beristirahat, dimulai saat pejantan dari Sikatan belang, Ficedula westermanni itu bertengger pada ranting pohon dengan jarak yang cukup dekat dengan kami. Cak Londo pun tidak mau melewatkan pemandangan itu, tanpa berlama-lama, Ia dan kameranya pun mulai beraksi mengabadikan Sikatan belang yang sedang membawa anaknya berlatih terbang dan terkadang memberikan makan kepada anaknya

SBI-Info Pengamatan Burung di kawasan Suaka Elang, Taman Nasional Gunung Halimun Salak, Loji, Bogor 4-5 Juli 2009

7 July 2009 oleh redaksi

“ Elang Brontok Spizatus cirrhatus, berhasil teridentifikasi setelah lama tak terlihat”

Menindak lanjuti pertemuan anggota Millist SBI-Info pada tanggal 25 Mei 2009 sembari pengamatan burung di Kpengamatan-elang.jpgebun Raya Bogor akhirnya rencana untuk pengamatan burung di kawasan Suaka Elang, Taman Nasional Gunung Halimun Salak, Loji, Bogor terlaksana juga. Kegiatan pengamatan yang diikuti 11 anggota millist dan beberapa staff Taman Nasional ini dilakukan selama dua hari yaitu pada hari Sabtu dan Minggu(4-5 Juli 2009).
Sebelum berangkat ke lokasi pengamatan, peserta diinstrusikan untuk berkumpul di Pool Damri Bogor untuk selanjutnya sama-sama berangkat ke lokasi, dikarenakan akses ke lokasi transportasinya lumayan banyak. Waktu yang diberikan teman-teman yang mau ikut pengamatan dari pukul 07.00 s/d 08.00 waktu bogor. Ketika sampai dilokasi yang terlihat baru satu teman,Cepi dari IPB, yang sedang menunggu di lokasi yang sudah di sepakati itu. Beberapa menit kemudian satu lagi yang ikut merapat, Panji dari Jogja yang secara kebetulan sedang berada di Jakarta untuk berlibur setelah selesai mengikuti ujian sekolah.
Sekitar pukul 08.00 empat peserta pengamatan yang dai IPB juga ikut merapat. Mereka adalah Andhy PS yang biasa di panggil Alek, Dwi Suryana, Bob dan Andi Nugraha yang biasa di panggil Ciamais karena kebetulan dia berasal dari Ciamis.
Sampai pukul 08.30 waktu bogor hanya delapan orang yang sudah bersama-sama kumpul di Pool Damri dan akhirnya kami putuskan untuk melanjutkan perjalanan menuju lokasi. Saya, Alek dan ketiga temannya berangkat menggunakan Sepeda motor dan empat teman yang lain, Mono, Dara, Cepi dan Panji berangkat menggunakan Angkutan Umum.
Satu jam perjalanan ke lokasi yang kami tempuh. Ketika sampai di lokasi, Kepala Balai Taman Nasional Dr. Ir. Bambang Supriyanto, M.Sc, dan beberapa staffnya sudah ada di lokasi. Tidak lama jeda waktu kami sampai di lokasi ke empat teman yang naik angkutan umum juga ikut merapat ke lokasi.
 

Sambutan oleh Kepala Balai TNGHS Setelah tiba, tidak berapa lama acara dilanjutkan dimulai dengan diskusi dan share informasi mengenai Taman Nasional dan suaka elang oleh Kepala Balai TNGHS, Pak Bambang. Kemudian setelah pemaparan tentang Taman Nasional oleh Kepala Balai, selanjutnya adalah share informasi mengenai kegiatan pengamatan burung yang selama ini dilakukan oleh SBI-Info dan beberapa teman-teman yang lain oleh Iwan Londo. Acara share informasi dan diskusi selesai pukul 12.00 yang kemudian dilanjutkan dengan ISOMA.

Pengamatan Burung di Medan yang berat 

Acara selanjutnya adalah pembagian tim untuk pembagian jalur yang akan di lewati saat pengamatan. Tim di bagi menjadi dua yaitu jalur sungai dan jalur pendakian ke Air Terjun. Selanjutnya tim pengamatan akan bertemu di satu titik yaitu sama-sama bertemu di Air Terjun. Saya, Iwan Londo, Dwi, dan Andi Ciamis pengamatan pada jalur sungai. Saya berempat di antarkan oleh Budi selaku perawat elang di suaka elang yang memang sudah mengetahui medan jalur sungai. Sedangkan untuk yang pengamatan di jalur pendakian ke air terjun adalah Alek, Bob, Panji, Aris, Dara, Pa Bambang, Mas Kuswandono dan beberapa peserta lainya.
Untuk yang di jalur sungai ternyat lumayan berat juga medannya. Beda banget ketika saya pertama kali melakukan pengamatan di jalur tersebut pada pertengahan Juni lalu. Medannya sudah sangat berubah dan kebetulan pada saat pengamatan kali ini kondisi sungai airnya lumayan banyak dan banyak bebatuan besar yang posisinya sudah bergeser. Tidak banyak burung yang kami temukan pada pengamatan kali ini. Hanya sekitar 12 spesies yang kami lihat secara langsung. Kalau dari suara lumayan banyak. Ada satu spesies dari family Strigtyformes yang tidak berasil kami identifikasi karena langsung masuk ke rerimbunan pohon. Jenis burung hantu itu kabur karena digangggu Srigunting Kelabu Dicrurus leucophaeus leucophaeus,jenis yang satu ini memang sangat usil sekali sama seperti keluarganya Srigunting Gagak Dicrurus anectans.
Hari pertama ditutup dengan mendengarkan presentasi dari Iwan Londo mengenai program pemasangan bendera dan Ring pada burung-burung pantai Migrant yang dilakukanya bersama Wildlife Conservation Society(WCS) di pantai Cemara Jambi beberapa bulan yang lalu.
Esok harinya, suara kicau burung Cucak Kutilang, Pycnonotus aurigaster, riuh menyambut pagi di hanganya mentari pagi yang keluar dari balik bukit. Setelah kami sarapan, kami kembali melanjutkan pengamatan. Jalur pengamtan kali ini adalah masuk dari samping lapang parkir menuju punggungan bukit samping suaka elang. Burung-burung semak lumayan banyak.
Tim masih sama, dibagi menjadi dua tim. Tim pertama jalan lebih dulu. Sedangkan Tim kedua melakukan pengamatan di sekitaran Visitor Center yang nantinya akan menyusul tim pertama dengan jeda waktu setengah jam.  Sambil jalan kami pun sambil pengamatan. Ketika sudah mau naik ke punggungan ternyata tidak ada jalur seperti yang di ungkapkan dari pihak TN. Kondisi vegetasinya didominasi Tepus yang cukup rapat sehingga menyulitkan kami untuk pengamatan maka akhirnya di putuskan untuk balik arah dan berbelok ke kanan sungai.
 
 

Suguhan dari Sang Elang
eb3.jpg
 Ketika menuruni jalanan yang menuju sungai, terlihat seekor Elang terbang begitu rendah. Langung si Alek mengarahkan senjatannya, kamera menjadi andalan untuk mendapatkan sebuah dokumentasi foto yang tak terbantahkan. Kalau dilihat dari morfologi(bentuk tubuh) dan suara itu terlihat seperti Elang Jawa Spizaetus bartelsi. Tidak lama setelah elang itu lewat, terlihat juga sepasang elang mendekati elang yang satu itu dan suara lengkinganya menandakan kalau itu suara elang jawa.
Tidak lama tim pertama pulang ke pos, Tim kedua juga menyusul dengan membawa hasil kalau mereka menemukan Elang Brontok, Spizaetus cirrhatus. Langsung saja tim pertama menyanggah pernyataan itu kalau itu bukan elang brontok. Tapi Elang Jawa. akhirnya sebagai jalan tengah Foto yang diperoleh cak Londo jadi bahan identifikasi dan diyakini itu adalah Elang jawa. Sedang asik berdiskusi sambil update data hasil pengamatan, dari dalam ruang Information Center kami disuguhi seekor Elang Hitam Ictinaetus malayensis, yang terbang begitu rendah. Teman-teman yang sedag pegang kameranya masing-masing langsung lari keluar dengan harapan bisa mendapatkan hasil yang bagus. Tapi tetap, cak Londo yang selalu mendapatkan hasil yang sempurna walaupun beliau selalu bilang kurang SIP.

Setidaknya, 33 Spesies burung berhasil ter-identifikasi di kawasan suaka elang. Itu yang membuat pihak Taman Nasional sangat senang dengan adanya kegiatan ini. Sedangkan untuk selanjutnya, pihat Taman Nasional sangat terbuka sekali jika ada teman-teman yang mau melakukan kegiatan yang sama di kawasan tersebut. Acara ditutup dengan foto-foto bersama.
 


 Foto sebagai Bukti  

Setibanya di rumah, saya mendapatkan informasi dari Mas Iwan bahwa foto yang tadinya dikira Elang Jawa adalah jenis yang sama, setelah beberapa informasi yang dia sampaikan melalui sms itu saya terima maka saya meyakinkan kalau itu adalah Elang Brontok. Hal yang bisa ditarik kesimpulan adalah dengan teridentifikasinya kalau di kawasan suaka elang ada elang brontok karena saya yang sudah hampir enam bulan mondar-mandir ke suaka elang belum pernah bertemu dengan Elang Brontok. Mungkin kalau elang itu tidak berhasil terdokumentsikan oleh Cak Londo kami tetap meyakini kalau itu Elang Jawa.  
Kami mengucapkan terimakasih kepada Pihak Taman Nasional dan teman-teman SBI-Info yang sudah mau meluangkan waktunya untuk melakukan pengamatan burung di kawasan suaka elang yang masuk kedalam kawasan Taman Nasional Gunung Halimun Salak.

  Penulis: Asman

 
 
 
       

 

Shoutbox

Last Message 0 minute ago
  • cialis online gene : Aloha! «link» cialis online generic
  • buy cialis online : Aloha! «link» buy cialis online
  • generic viagra : Aloha! «link» generic viagra
  • buy cialis online : Aloha! «link» buy cialis online without prescription
  • buy viagra without : Aloha! «link» buy viagra without prescription
  • hydrocodone : Aloha! «link» hydrocodone
  • fioricet : Aloha! «link» fioricet
  • cheap propecia : Aloha! «link» cheap propecia
  • buy phentermine : Aloha! «link» buy phentermine
  • valium : Aloha! «link» valium
  • buy levitra : Aloha! «link» buy levitra
  • accutane : Aloha! «link» accutane
  • buy ativan online : Aloha! «link» buy ativan online
  • buy adipex online : Aloha! «link» buy adipex online with no prescription
  • buy adipex without : Aloha! «link» buy adipex without prescription
  • codeine : Aloha! «link» codeine
  • buy ativan online : Aloha! «link» buy ativan online
  • zithromax : Aloha! «link» zithromax
  • oxycodone : Aloha! «link» oxycodone
  • ritalin : Aloha! «link» ritalin
  • azithromycin : Aloha! «link» azithromycin
  • clonazepam without : Aloha! «link» clonazepam without prescription
  • valium : Aloha! «link» valium
  • ativan online : Aloha! «link» ativan online
  • diazepam : Aloha! «link» diazepam
  • alprazolam without : Aloha! «link» alprazolam without prescription
  • meridia online no : Aloha! «link» meridia online no prescription
  • ativan without pre : Aloha! «link» ativan without prescription
  • buy ativan online : Aloha! «link» buy ativan online
  • buy meridia withou : Aloha! «link» buy meridia without prescription
  • buy ativan without : Aloha! «link» buy ativan without prescription
  • insanity : qndpobkdwtxsgohl qtns, «link» insanity, nvhpHxb.
  • insanity : qndpobkdwtxsgohl qtns, «link» insanity, nvhpHxb.
  • buy tramadol no pr : Aloha! «link» buy tramadol no prescription
  • tramadol online : Aloha! «link» tramadol online

Lain-lain

Mailing List

Untuk bergabung dengan milis SBI-info, masukkan alamat email pada kolom di bawah ini lalu klik JOIN.